“Sayang Ibu”

 (Tulisan ini dipublish  untuk mengenang hari lahir Ibunda tercinta (Almarhumah) Amriany pada tanggal 01 April. Ibunda wafat pada 01 Desember 2001. Dan website ini saya design dengan niat saya, semoga seluruh kebaikan yang tersirat pada artikelnya, menjadi amal jariyah bagi Ibunda tercinta di hadapan Ilahi Robbi. Amiin.)

 

Ibu… sesungguhnya ananda banyak menyusahkanmu… di saat ananda meronta-ronta ingin melihat dunia ini, Ibu sanggup bertarung nyawa utuk memberiku peluang hidup di dunia ini. Saat terdenganr suara tangis ananda, Ibu tersenyum dalam kepayahan… ketika dalam pembesaranku, ananda banyak menyusahkan Ibu.

 Tetapi, walau bagaimana nakalnya ananda, walau bagaimana cerewetnya ananda, Ibu tidak pernah menjewer apalagi memukul ananda. Ibu melayani ananda tanpa mengenal arti penat jemu, tanpa mengenal arti marah dan kecewa. Sekalipun Ibu marah terhadapku, tidak pernah Ibu melukai hati ananda, malah Ibu lebih senang menyimpannya dalam hatimu…walau hati Ibu sakit.

 Walaupun Ibu sedang dalam kesedihan, Ibu tidak pernah menunjukkan kepedihan hatimu kepada ananda, malah Ibu tersenyum kepada ananda.

 Apabila ananda dalam kepayahan, Ibu sering mengingatkan ananda, bahwa kepayahan memberi kita pelajaran, menjadi insan yang bertaqwa. Apabila ananda jatuh, Ibu ulurkan tanganmu, Ibu bantu ananda bangun sambil tersenyum dan memeluk ananda.

 Ibu.. engkau sering mengingatkan anada kepada besarnya kekuasaan Yang Esa. Jika ananda tertinggal sholat, Ibu banyak menasehati ananda. Saat itu, hati ananda memberontak, tetapi Ibu dapat membaca hati ananda, Ibu memeluk erat ananda, seraya berkata: “Sayang..jika kita sholat, Alloh akan memberkatimu. Sayang…jika kita tidak ada harta di dunia, tetapi jika kita sholat, maka harta kita di akhirat lebih berganda banyaknya”.

 Ibu tidak pernah mengucapkan selamat kepadaku bila ananda berjaya, Ibu hanya mengusap kepalaku. Tetapi bila ananda gagal, Ibu akan menasehatiku.

 Kini, ananda mengerti bahwa ketika Ibu mengusap kepala ananda, maka seluruh kasih sayang Ibu meresap ke dalam jiwa ananda.

 

 

 

Print Friendly